Total Tayangan Halaman

Minggu, 27 Mei 2012

Real or Unreal


 Chapter 1

Aku membayangkan langit biru dan suara ombak di luar sana. Angin yang berhembus pelan membelai tubuhku dan mengibarkan rambutku. Tapi itu hanyalah angan-angan, bayangan, imajinasi, atau apalah orang mau menyebutnya. Yang jelas aku berada di sini. Di tempat yang penuh sesak dengan orang-orang yang mengantri untuk mendapatkan makan siang mereka.
            Beberapa orang berteriak marah karena antrian belum memendek sejak tiga menit yang lalu. Gila apa, restoran ini hanya memiliki tiga koki dan harus melayani puluhan orang disini secepat roket. Aku mengutuk pelan ke arah orang-orang yang mulai tidak sabar.
            “Ini mbak, nasi goreng seafood dan jus alpukatnya. Ini notanya dan silahkan di bayar di kasir.” Aku berkata seramah mungkin sambil menyunggingkan senyum. Padahal hatiku sudah ingin menyumpah-nyumpah rasanya.
“Selanjutnya!” aku berteriak mengatasi suara-suara orang yang berbicara. Ups! Sebenarnya aku tidak perlu berteriak karena orang itu sudah di depanku. Tapi itu kulakukan untuk mengatasi rasa jenuh yang menumpuk di kepala.
            Seorang laki-laki dengan setelan jas hitam maju, dia menyebutkan pesanannya dan memberikan kertas pesanan itu. “Tunggu sebentar Pak.” Kataku ramah. Untung saja pesanan untuk pria ini sudah dimasak. Coba kalau tidak. Mungkin pria ini akan ngomel-ngomel selama 5 menit penuh.
            Kepalaku mendadak pusing. Wajah laki-laki itu tak lagi sejelas yang aku lihat tadi. Pria itu menyadari perubahanku. Alisnya bertaut cemas. “Apa kau baik-baik saja?” dia bertanya.
            Aku memerlukan waktu setengah menit penuh untuk menjawab pertanyaan itu. “Sedikit capek Pak. Tapi saya baik-baik saja. Terima kasih.” Aku tersenyum lemah namun ini adalah senyuman tulus pertamaku sejak 2 jam terakhir ini. Setelah aku menyerahkan pesanannya, pria itu melangkah pergi­­, atau setidaknya begitu yang kupikirkan. Tapi nyatanya pria itu menatapku dan berkata: “Sebaiknya kau istirahat.” Lalu dia tersenyum dan melangkah pergi.
            Pria itu benar. Sakit dikepalaku tidak terasa lebih baik, malah semakin nyeri. Aku memutuskan untuk beristirahat saja.
            “Wi, gantiin dong. Gue pusing nih.” Dewi, kasir kedua yang ada di sampingku mengangguk dan mulai mematikan alat kasirnya.
            “Lo nggak apa-apa?” tanyanya cemas. Aku hanya tersenyum lemah.
            “Nggak pa-pa kok. Ntar habis minum obat juga sembuh.” Lalu aku berjalan ke belakang toko, menuju ruang istirahat para pegawai. Hmm… mungkin tidur saja cukup, batinku. Aku ingat bahwa semalam aku tidak cukup tidur karena harus mengerjakan tugas.
            Setelah sampai ke ruang istirahat, segera saja aku berbaring. Dan dalam waktu tidak lebih dari 5 menit, aku telah berada di gerbang alam mimpi.

***
            Aku merasakan angin yang lembut menerpa wajahku. Aku tau bahwa mataku tertutup, jadi aku memutuskan untuk membukanya perlahan-lahan. Sesaat aku melihat cahaya, lalu secara refleks aku menutup kembali mataku. Aku menghitung, satu… dua… tiga…. Lalu aku membuka mata lebar-lebar.
            Sinar matahari menembus lewat celah-celah kanopi daun yang lebat di atasku. Tunggu! Segera saja aku bersikap siaga. Daun? Lebat kayak gini? Aku merasa aneh dengan tempat ini. Bukan karena tempat ini seram atau bagaimana, tempat ini luar biasa indah.
 Pohon-pohon berjajar teratur memagari jalan kecil ini. Pepohonannya tinggi tapi tidak terkesan menyeramkan. Daun-daunnya lebat di atas sana membentuk kanopi daun-daun indah berwarna hijau, tapi tetap memungkinkan untuk ditembus sinar matahari. Sejuk dan menenangkan. Setidaknya itu kesan pertamaku dengan tempat ini.
            Ya, sebelum aku sadar bahwa tempat ini teramat asing bagiku. Semua orang sebangsa dan setanah air pasti tau kalau di Jakarta, tempat tinggalku, tidak ada tempat semenakjubkan ini. Ini terlalu… yah, alami sekali. Otakku berputar cepat. Menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin aku tidak di Jakarta sekarang. Mungkin aku sedang ada di Bali. Tapi untuk apa aku ke Bali? Aku tidak merasa sedang merencanakan liburan indah ke pulau dewata itu.
            Lalu pikiran-pikiran tidak rasional mula menjalari otakku. Jangan-jangan aku diculik? Jangan-jangan aku lupa ingatan? Tapi aku masih ingat namaku. Argh! Segera saja aku merasa frustasi. Rasa kagumku atas hutan—atau apalah—ini segera menghilang. Digantikan rasa takut dan cemas.
            Perasaan itu sekarang mengambil alih naluriku. Seakan seperti tersadar dari hipnotis, aku berlari secepat mungkin melalui jalan kecil ini. Aku berlari kesetanan, berharap agar hutan ini segera lenyap dan digantikan oleh belantara gedung-gedung mewah pencakar langit.   
            Nafasku memburu. Dadaku terasa terbakar setelah berlari kira-kira 3 menit. Aku mulai panik. Aku menambah kecepatan berlari, seperti orang yang sedang dikejar sesuatu. “Sial. Ini dimana sih?” aku mulai merasa putus asa. Air mata segera saja merebak ke pelupuk mataku. Tapi sekali lagi, aku seperti ditampar oleh sebuah pemikiran rasional. Mimpi. Ini pasti mimpi. Tempat dimana sesuatu bisa terasa sama selamanya atau terasa berbeda setiap detiknya.
            Kecepatan lariku melambat. Dan beberapa saat kemudian aku berhenti, lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Oke, aku hanya perlu terbangun dari mimpi sial ini. Tapi bagaimana caranya? Aku seperti menemukan jalan buntu di ujung sebuah jalan raya.
            Hei, ini kan mimpiku. Aku bisa saja mengendalikannya. Sesaat aku tersenyum senang, lalu ekspresiku berubah menjadi serius. “oke, it’s show time.” Aku menutup mata, lalu membatin dalam hati, memerintahkan alam bawah sadarku untuk terbangun.
            Tiba-tiba angin tidak lagi berhembus. Suara daun yang bergesekan juga tidak lagi terdengar. Sedetik kemudian, aku membuka mata. Aku mengenali atap ini, ruangan ini, dan semua isinya. Tanpa sadar sebuah senyum tercetak di wajahku. Aku kembali. Ternyata tadi itu hanyalah salah satu mimpi burukku. Nafasku masih memburu, tapi aku tidak berkeringat lagi.
            Semua ini membuatku lega. Yah, aku telah kembali ke ruangan istirahat di tempat kerjaku. Ruang istirahat Reina Resto.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar