Chapter 1
Aku
membayangkan langit biru dan suara ombak di luar sana. Angin yang berhembus
pelan membelai tubuhku dan mengibarkan rambutku. Tapi itu hanyalah angan-angan,
bayangan, imajinasi, atau apalah orang mau menyebutnya. Yang jelas aku berada
di sini. Di tempat yang penuh sesak dengan orang-orang yang mengantri untuk
mendapatkan makan siang mereka.
Beberapa orang berteriak marah
karena antrian belum memendek sejak tiga menit yang lalu. Gila apa, restoran
ini hanya memiliki tiga koki dan harus melayani puluhan orang disini secepat roket.
Aku mengutuk pelan ke arah orang-orang yang mulai tidak sabar.
“Ini mbak, nasi goreng seafood dan
jus alpukatnya. Ini notanya dan silahkan di bayar di kasir.” Aku berkata
seramah mungkin sambil menyunggingkan senyum. Padahal hatiku sudah ingin
menyumpah-nyumpah rasanya.
“Selanjutnya!”
aku berteriak mengatasi suara-suara orang yang berbicara. Ups! Sebenarnya aku
tidak perlu berteriak karena orang itu sudah di depanku. Tapi itu kulakukan
untuk mengatasi rasa jenuh yang menumpuk di kepala.
Seorang laki-laki dengan setelan jas
hitam maju, dia menyebutkan pesanannya dan memberikan kertas pesanan itu.
“Tunggu sebentar Pak.” Kataku ramah. Untung saja pesanan untuk pria ini sudah
dimasak. Coba kalau tidak. Mungkin pria ini akan ngomel-ngomel selama 5 menit
penuh.
Kepalaku mendadak pusing. Wajah
laki-laki itu tak lagi sejelas yang aku lihat tadi. Pria itu menyadari
perubahanku. Alisnya bertaut cemas. “Apa kau baik-baik saja?” dia bertanya.
Aku memerlukan waktu setengah menit
penuh untuk menjawab pertanyaan itu. “Sedikit capek Pak. Tapi saya baik-baik
saja. Terima kasih.” Aku tersenyum lemah namun ini adalah senyuman tulus
pertamaku sejak 2 jam terakhir ini. Setelah aku menyerahkan pesanannya, pria
itu melangkah pergi, atau setidaknya begitu yang kupikirkan. Tapi nyatanya
pria itu menatapku dan berkata: “Sebaiknya kau istirahat.” Lalu dia tersenyum
dan melangkah pergi.
Pria itu benar. Sakit dikepalaku
tidak terasa lebih baik, malah semakin nyeri. Aku memutuskan untuk beristirahat
saja.
“Wi, gantiin dong. Gue pusing nih.”
Dewi, kasir kedua yang ada di sampingku mengangguk dan mulai mematikan alat
kasirnya.
“Lo nggak apa-apa?” tanyanya cemas.
Aku hanya tersenyum lemah.
“Nggak pa-pa kok. Ntar habis minum
obat juga sembuh.” Lalu aku berjalan ke belakang toko, menuju ruang istirahat
para pegawai. Hmm… mungkin tidur saja cukup, batinku. Aku ingat bahwa semalam
aku tidak cukup tidur karena harus mengerjakan tugas.
Setelah sampai ke ruang istirahat,
segera saja aku berbaring. Dan dalam waktu tidak lebih dari 5 menit, aku telah
berada di gerbang alam mimpi.
***
Aku merasakan angin yang lembut
menerpa wajahku. Aku tau bahwa mataku tertutup, jadi aku memutuskan untuk
membukanya perlahan-lahan. Sesaat aku melihat cahaya, lalu secara refleks aku
menutup kembali mataku. Aku menghitung, satu… dua… tiga…. Lalu aku membuka mata
lebar-lebar.
Sinar matahari menembus lewat
celah-celah kanopi daun yang lebat di atasku. Tunggu! Segera saja aku bersikap
siaga. Daun? Lebat kayak gini? Aku merasa aneh dengan tempat ini. Bukan karena
tempat ini seram atau bagaimana, tempat ini luar biasa indah.
Pohon-pohon berjajar teratur memagari jalan
kecil ini. Pepohonannya tinggi tapi tidak terkesan menyeramkan. Daun-daunnya
lebat di atas sana membentuk kanopi daun-daun indah berwarna hijau, tapi tetap
memungkinkan untuk ditembus sinar matahari. Sejuk dan menenangkan. Setidaknya
itu kesan pertamaku dengan tempat ini.
Ya, sebelum aku sadar bahwa tempat
ini teramat asing bagiku. Semua orang sebangsa dan setanah air pasti tau kalau
di Jakarta, tempat tinggalku, tidak ada tempat semenakjubkan ini. Ini terlalu…
yah, alami sekali. Otakku berputar cepat. Menerka-nerka apa yang sebenarnya
terjadi. Mungkin aku tidak di Jakarta sekarang. Mungkin aku sedang ada di Bali.
Tapi untuk apa aku ke Bali? Aku tidak merasa sedang merencanakan liburan indah
ke pulau dewata itu.
Lalu pikiran-pikiran tidak rasional
mula menjalari otakku. Jangan-jangan aku diculik? Jangan-jangan aku lupa
ingatan? Tapi aku masih ingat namaku. Argh! Segera saja aku merasa frustasi.
Rasa kagumku atas hutan—atau apalah—ini segera menghilang. Digantikan rasa
takut dan cemas.
Perasaan itu sekarang mengambil alih
naluriku. Seakan seperti tersadar dari hipnotis, aku berlari secepat mungkin
melalui jalan kecil ini. Aku berlari kesetanan, berharap agar hutan ini segera
lenyap dan digantikan oleh belantara gedung-gedung mewah pencakar langit.
Nafasku memburu. Dadaku terasa
terbakar setelah berlari kira-kira 3 menit. Aku mulai panik. Aku menambah
kecepatan berlari, seperti orang yang sedang dikejar sesuatu. “Sial. Ini dimana
sih?” aku mulai merasa putus asa. Air mata segera saja merebak ke pelupuk
mataku. Tapi sekali lagi, aku seperti ditampar oleh sebuah pemikiran rasional.
Mimpi. Ini pasti mimpi. Tempat dimana sesuatu bisa terasa sama selamanya atau
terasa berbeda setiap detiknya.
Kecepatan lariku melambat. Dan
beberapa saat kemudian aku berhenti, lalu menarik nafas dalam-dalam dan
menghembuskannya perlahan. Oke, aku hanya perlu terbangun dari mimpi sial ini.
Tapi bagaimana caranya? Aku seperti menemukan jalan buntu di ujung sebuah jalan
raya.
Hei, ini kan mimpiku. Aku bisa saja
mengendalikannya. Sesaat aku tersenyum senang, lalu ekspresiku berubah menjadi
serius. “oke, it’s show time.” Aku menutup mata, lalu membatin dalam hati,
memerintahkan alam bawah sadarku untuk terbangun.
Tiba-tiba angin tidak lagi
berhembus. Suara daun yang bergesekan juga tidak lagi terdengar. Sedetik
kemudian, aku membuka mata. Aku mengenali atap ini, ruangan ini, dan semua
isinya. Tanpa sadar sebuah senyum tercetak di wajahku. Aku kembali. Ternyata
tadi itu hanyalah salah satu mimpi burukku. Nafasku masih memburu, tapi aku
tidak berkeringat lagi.
Semua ini membuatku lega. Yah, aku
telah kembali ke ruangan istirahat di tempat kerjaku. Ruang istirahat Reina
Resto.